Wabup Garut : Meluapnya Sungai Cimanuk dan Sungai Cikaengan menjadi salah satu penyebab banjir Jum’at lalu

20/07/2022 06:21

GARUT, Wakil Bupati Garut, dr. Helmi Budiman, menerima resmi kunjungan kerja (kunker) Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Republik Indonesia, Letnan Jenderal (Letjen) Suharyanto, dalam rangka meninjau kondisi terkini lokasi pasca bencana banjir dan longsir di Kabupaten Garut Jum’at (15/7/2022) lalu. Kunker Kepala BNPB RI ini, diterima di Ruang Pamengkang, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Selasa (19/7/2022).

Dalam sambutannya, Wabup Garut menjelaskan bahwa Kabupaten Garut memiliki 3 sungai besar, dan meluapnya dua sungai besar yakni Sungai Cimanuk dan Sungai Cikaengan menjadi salah satu penyebab banjir Jum’at lalu.

“Namun yang paling utama yang menyebabkan bencana pada hari (malam) Sabtu kemarin itu adalah Sungai Cimanuk. Ada 5 anak sungai Cimanuk, pertama adalah sungai Cikandang, sungai Cikandang ini menyebabkan banjir di daerah Cikajang, kemudian ada sungai Ciwalen yang di Garut kota masih di Garut kota adalah sungai Cipeujeuh, masih juga di Garut Kota adalah Sungai Cikendi dan ada juga beberapa anak sungai lain yang ini hampir yang saya sebutkan tadi semuanya meluap,” ujarnya dihadapan tim BNPB.

Ia mengungkapkan bencana banjir ini menyebabkan beberapa rumah warga terendam bahkan ada yang hanyut. Selain itu, beberapa fasilitas umum juga seperti jalan, masjid dan lain-lain, terkena dampak bencana banjir ini.

Akibat dari meluapnya Sungai Cimanuk ini, imbuh Wabup Garut, membuat beberapa kecamatan yang terlewati oleh sungai ini terdampak.

“Sehingga ada beberapa kecamatan yang terkena musibah yang berjumlah 14 kecamatan, sedangkan desanya ada 90 desa dan kelurahan, dan kalau dilihat titiknya ada 137 titik kejadian banjir dan longsor jadi ada banjir dan longsor,” imbuhnya.

Ia mengatakan berdasarkan data terakhir yang ia terima, ada sekitar 6.314 KK dengan 19.546 jiwa yang terdampak akibat bencana ini, di mana 242 KK di antaranya harus mengungsi ke lokasi pengungsian yang ada.

“Alhamdulillah sampai saat ini pengungsi kita berkurang karena rumah-rumahnya Alhamdulillah ada yang masih bisa ditempat tinggali walaupun ada beberapa yang tidak bisa ditempati kembali karena rusak ya,” katanya.

Kunjungan BNPB RI ke Kabupaten Garut ini, dilanjutkan dengan peninjauan lokasi bencana ke Kampung Dayeuhandap, Kelurahan Kota Kulon, Kecamatan Garut Kota. Di mana dalam peninjauan ini, BNPB Garut didampingi langsung oleh Wabup Garut.

Sementara itu, saat melakukan _press conference_, BNPB RI, Letjen Suharyanto, menuturkan pihaknya datang ke Kabupaten Garut dalam rangka memastikan penanggulangan bencana yang terjadi Jum’at malam lalu, berjalan dengan tertib dan sebagaimana mestinya.

“Kami informasikan bahwa bencana tanah longsor dan banjir di Kabupaten Garut ini sekarang sudah mulai surut airnya, Alhamdulillah tidak ada korban jiwa akibat korban banjir, memang ada 1 yang meninggal tetapi itu karena sakit stroke, kemudian ada beberapa infrastruktur yang rusak termasuk rumah-rumah masyarakat yang terendam, tentu saja kita akan melaksanakan langkah-langkah penanganan,” tuturnya.

Ia memastikan bahwa di masa tanggap darurat ini, kebutuhan hidup dasar masyarakat khususnya pengungsi dan masyarakat terdampak menjadi prioritas utama pihaknya.

“Kemudian setelah tanggap darurat nanti akan dikaji segala kebutuhan yang harus dilakukan, nanti pemerintah daerah dibantu unsur TNI, Polri, Kodim dan Polres Garut dibawa arahan Danrem 062/Tarumanagara ini melakukan langkah-langkah pasca tanggap darurat,” kata Kepala BNPB RI.

Berdasarkan kajian sementara, Letjen Suharyanto memaparkan ada beberapa rumah yang harus direlokasi, karena ia menilai jika masyarakat tetap tinggal di daerah tersebut ditakutkan ketika banjir terjadi lagi, daerah tersebut akan terdampak kembali.

“Nah ini dalam proses negoisasi dan penjelasan kepada masyarakat agar mereka mau direlokasi, kemudian sambil menunggu relokasi juga ada masyarakat-masyarakat yang harus meninggalkan rumahnya, oleh Bupati dan Wakil Bupati Garut akan disiapkan rumah-rumah kontrakan, dan nanti dari BNPB akan membantu dana penghunian atau dana yang digunakan untuk mengontrak,” paparnya.

Menurutnya, Garut merupakan tipikal daerah yang memiliki ketinggian sehingga rawan terjadi longsor, selain itu sungai-sungai yang ada di Garut pun sudah banyak yang dangkal, sehingga hal tersebut harus dipikirkan untuk solusi jangka panjangnya.

“Agar di kemudian hari apabila terjadi hujan yang sama, dampak yang ditimbulkannya minimal tidak seperti sekarang, semakin kecil semakin kecil bahkan bisa berkurang dan hilang sama sekali, itu rekan-rekan wartawan yang bisa saya disampaikan,” tandasnya kepada awak media. (Red).*

Rekomendasi Anda

banner-single-post2
5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Terkini Lainnya

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x