Disdik Jabar Bantah Soal Isu Diskriminasi di SMAN 2 Depok

11/10/2022 10:10

DEPOK – Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat membantah adanya diskriminasi terhadap sejumlah pelajar nonmuslim di SMAN 2 Depok. Sebelumnya, beredar kabar adanya diskriminasi terhadap sejumlah pelajar Kristen di SMAN 2 Depok. Para siswa disebut menggunakan lorong kelas untuk kegiatan rohani Kristen.

Kepala Disdik Jawa Barat, Dedi Supandi mengeklaim, pihaknya telah bergerak dan menginvestigasi dugaan diskriminasi yang disebut terjadi pada Jumat, 30 September 2022. Hasilnya, Disdik menemukan sejumlah fakta yang tidak sesuai dengan isu diskriminasi itu.

Dedi menjelaskan, kronologi yang sebenarnya adalah sebelum pembelajaran di SMAN 2 Depok dimulai pada pukul 06.45 WIB, terdapat kegiatan keagamaan dan penguatan karakter sesuai dengan agamanya masing-masing. Para siswa dan siswi dibimbing oleh guru agama yang bersangkutan.

Sementara, berdasarkan penjelasan dari wakil kepala sekolah bidang sarana prasarana, pada Kamis, 29 September 2022 siang, seragam yang akan dibagikan kepada seluruh siswa kelas X diletakan di ruang multiguna. Hal itu membuat ruangan multiguna menjadi berantakan pada keesokan harinya karena seragam yang akan dibagikan jumlahnya sangat banyak dan butuh diklasifikasikan sesuai kelas siswa.

“Oleh karena itu, untuk hari Jumat, 30 September 2022, untuk kegiatan doa pagi bagi siswa-siswi beragama Kristen dipindahkan ke ruang pertemuan lantai 2,” katanya Dedi dalam keterangan tertulis yang diterima awak media Jumat, (7/10/22).

Informasi pindahnya ruangan, kata Dedi Supandi, sudah disampaikan oleh pihak sarana prasarana kepada kepala sekolah, petugas kebersihan (office boy) dan salah satu siswa.

Kemudian, pada Jumat pagi atau saatnya kegiatan akan dimulai, petugas kebersihan terlambat untuk membuka pintu ruangan, sementara siswa yang akan mengikuti rohani Kristen sudah datang.

“Jadi mereka menunggu di lorong ruang pertemuan. Nah foto yang beredar di media bahwa seakan-akan murid sedang duduk di selasar atau pelataran lorong karena tidak diberi ruangan untuk kegiatan, sebetulnya tidak sesuai dengan yang diberitakan,” jelasnya.

“Kejadian yang sebenarnya adalah para siswa sedang menunggu dibukakan pintu oleh office boy yang memegang kunci ruangan pertemuan,” sambungnya.

Dikatakan Dedi, tak lama kemudian ruangan tersebut dibuka dan para siswa langsung masuk untuk melakukan aktivitas keagamaan sebagaimana mestinya.

“Hingga kini pun kegiatan doa pagi sudah kembali menggunakan ruangan multiguna bawah seperti biasanya.” tuturnya.

Sementara untuk memastikan dugaan diskriminasi tersebut, sejumlah anggota DPRD juga telah melakukan sidak ke SMAN 2 Depok. Bahkan, Wakil Ketua DPRD Depok yang juga Ketua DPC PDIP Depok, Hendrik Tangke Allo mendesak agar kepala sekolah SMAN 2 Depok dicopot jika terbukti terjadinya diskriminasi.

“Kalau terbukti ada diskriminasi agama terhadap siswa di SMAN 2 Depok, copot kepseknya,” tegasnya. (Red).*

Rekomendasi Anda

banner-single-post2
5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Terkini Lainnya

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x