Perjuangan Guru Honorer Alumnus IAIN/UIN Makassar 1999 Untuk Bisa Menjadi ASN

10/05/2021 10:17

Sulawesi Selatan – Menjadi guru tidak selalu soal materi, bukan pula soal berapa jumlah rupiah yang masuk ke rekening pribadi, tapi soal panggilan hati bisa mengalahkan segalanya. Bagi mereka yang niatnya tulus mengabdi demi masa depan anak-anak, itu menjadi suatu hal yang jauh lebih penting.

Bahkan bagi guru yang masih berstatus honorer, dimana kehidupan mereka masih jauh dari kata sejahtera, kondisi tersebut tidak lantas membuat mereka menyerah atau pun putus asa, mereka tetap semangat mendidik para siswanya.

Demikian hal nya yang dialami Sumartini,S.Ag, alumnus IAIN/UIN Makassar Tahun 1999, yang sempat menjadi guru Honorer di SMPN 4 Kecamatan Luwuk Utara, Kabupaten Banggai, Propinsi Sulawesi Selatan.

Kendati berlatar pendidikan seorang Sarjana, Sumartini tidak malu menyandang predikat sebagai Guru Honorer yang digelutinya sejak Tahun 2005 hingga saat ini.

Sumartini,S.Ag mengawali kariernya sebagai guru honorer di MTS Salekoe, Kec.Malangke dari Tahun 2005 – 2007. Selama kurang lebih 1 Tahun 6 bulan mengajar di sekolah ini, Ibu guru yang tinggal di Desa Sukadamai, Kec.Sukamaju ini, 3x seminggu harus menempuh jarak 30 Km pulang – pergi, dengan mengayuh sepeda.

Seiring dengan berjalannya waktu, ketika mendapat kabar bahwa ada sekolah Blockgrand hasil kerja sama Indonesia – Singapura yang akan dibangun di Desa Katulungan, melalui sang suami, dirinya mulai mencaritahu untuk bisa bergabung mengajar disekolah tersebut.

“Alhamdudillah, saya bertetemu dengan Pak H.Nurdin, mantan Sekda Luwuk Utara yang membantu saya agar bisa mengajar di UPT SMPN 4, yang sekarang jadi UPT SMPN 2 sejak 2007-2020,” kata Sumartini.

Dengan keasabaran dan ketabahan, kini Sumartini bisa tersenyum gembira karena terhitung Tahun 2021 ini,dirinya sudah berstatus sebagai Guru ASN, “Bersyukur kehadirat Allah SWT, kini saya sudah jadi ASN PPPK, Berakit – rakit kehulu, Berenang-renang ketepian, bersakit – sakit dahulu bersenang-senang kemudian.

Keberhasilan Sumartini meraih mimpinya ini, tak lepas dari peran suami tercintanya, yang kendati dalam kondisi sakit, namun dirinya tidak mau tinggal diam.

Dengan modal nekad sang suami berusaha menemui kenalan bahkan hingga menemui beberapa anggota DPRD dan Bupati yang dianggapnya bisa membantu memfasilitasi istrinya untuk memperoleh status sebagai guru ASN.

“Demi Istri dan anak – anak apapun akan saya lakukan, walaupun sakit, tapi saya lebih tidak tega lagi melihat istri harus mengayuh sepeda sejauh puluhan kilometer untuk menunaikan tugasnya sebagai guru,” ucap suami, Sumartini. (Saleh/Jubir).

Rekomendasi Anda

banner-single-post2
5 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Terkini Lainnya

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x