“Ayat Kehidupan”

14/06/2021 18:45

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Kehidupan memang punya khasnya. Entitas manusia punya unikasinya. Orang-orang inovatif, kreatif, idealis dan punya integritas kadang tak disukai di makomnya. Dalam sebuah kitab suci dikatakan “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada Nabi yang dihargai di tempat asalnya”. Nabi saja dalam kisah keagamaan ditolak, dibenci, diusir, dianggap penista agama dan bahkan mau dibunuh.

Itulah kehidupan. Setiap pelopor, pemikir, manusia idealis akan menjadi penyampai idealisme dan pengajak. Ia tidak bisa menjadi pengikut. Ia sulit menjadi pengikut dari apa yang sudah ada. Apa yang sudah ada (status quo) dianggap “sesat” pikir dan menjauh dari kewarasan. Ia akan memberontak dengan caranya. Ia akan melakukan resistensi terhadap ketidakwarasan sebuah makom, entitas atau organisasi.

Nabi Muhammad sendiri diusir dari tanah kelahirannya Mekkah. Ia bahkan wafat bukan di tanah kelahirannya Mekkah. Nabi pun diusir dan dianggap penista agama leluhur. Agama leluhur yang politheis dianggap dinistakan oleh seorang Muhammad dengan ajaran monotheis. Politheis paradigma spiritulitas lama berhadapan dengan paradigma spiritualis baru monotheis.

Nabi Muhammad dan pengikutnya dinistakan dan dianiaya. Nabi saja dianiaya, apalagi kita sebagai manusia biasa ! Fenomena, gejala atau khas alam sosial kehidupan manusia akan punya unikasi yang sama. Bila seseorang punya integritas mengubah paradigma jumud yang status quo maka akan berhadapan dengan “jamaah politheisme” memuja harta, tahta dan jabatan. Bukan idealisme waras.

Setiap pembaharu, pelopor, penggerak kebaruan akan berhadapan dengan publik mapan. Publik bawaannya ingin zona nyaman atau zona nyam-nyam, mamam kenyang tidak ada yang menggangu. Setiap pembaharu, pembawa pesan dan para Nabi adalah pembawa “kewarasan” yang akan menggerus kejahiliahan yang sudah mandarah daging, menulang dan membody.

Harimau mati meninggalkan belang kulitnya. Kulitnya diawetkan karena mahal, berharga dan bernilai seni. Manusia mati hampir semua fisiknya dikuburkan bahkan dibakar. Kulit manusia sangat tidak berharga. Apa yang berharga ? Amalan dan apa yang ditinggalkannya. Nabi Muhammad meninggalkan dua warisan berharga tiada tara yakni Al Qur’an (kitab suci) dan Hadits (amalan personalnya).

Sejumlah orang besar selalu mendapatkan pengalaman penganiayaan luar biasa. Bahkan bukankah Madiba (Nelson Mandela) pernah dikencingi sipir penjara ? Bagaimana hinaan orang kulit putih kepadanya ? Ia dipenjara sekitar 27 tahun. Dari penjara ke penjara. Bukankah Bung Karno pun awalnya hidup dari penjara ke penjara ? Kesengsaraan para pembaharu dalam dunia manusia bagaikan syarat. Syarat menjadi tokoh dan pembaharu adalah menentang arus dengan caranya. Para Nabi adalah para penentang arus dengan caranya.

Para tokoh pembaharu politik dan pembaharu keimanan dan keyakinan mendapatkan sejumlah penganiayaan dan derita. Dikucilkan dan diusir adalah diantara bagian dari sebuah perjuangan seorang pejuang pembaharu. Kita sudahkan menjadi pembaharu ? Minimal di makom terdekat kita ? Hidup adalah pilihan, mau jadi pembaharu menentang status quo atau pengikut setia ? Pikiran dan hati akan memilihnya.

Apa pun yang terjadi tetapah “menghadap” pada IIahi. Iihat do’a Nabi Muhammad saat diusir dari Mekkah. “Ya Allah, kepada-Mu kuadukan lemahnya kekuatanku, kekuranganku, siasatku, dan ketidakberdayaanu menghadapi manusia. Wahai Dzat Yang Maha pengasih di antara pengasih, Tuhan orang-orang yang lemah. Engkau Tuhanku, kepada siapa hendak Kau serahkan diriku ? Kepada saudaraku yang bermuka masam padaku ? Atau kepada musuh yang Kau kuasakan urusanku padanya ?”

“Jika engkau tidak marah kepadaku, maka aku tidak peduli (apapun sikap orang kepadaku). Hanya saja ampunan-Mu lebih luas bagi diriku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari semua kegelapan, sehingga dengannya menjadi baik urusan dunia dan akhirat, dari kemarahan-Mu kepadaku atau tidak terima-Mu atas diriku. Milik-Mu lah keridhaan hingga Engkau ridha. Tidak ada daya upaya selain dengan-Mu.”

Mari kita maknai untaian narasi di atas dan doa Sang Nabi. Intinya hidup punya masalahnya sendiri dan “Ayat Kehidupan” menjelaskan para Nabi pun diusir dari semua kampung halamannya. Para Nabi rela dan ambil risiko diusir saudara sekampung halaman, namun Ia memilih tidak dibenci Tuhannya. Selama Tuhan tetap hayat di kandung badan, para pelopor terus bergerak. Hasil tidak lebih penting dari ridha Ilahi !

Rekomendasi Anda

banner-single-post2
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Terkini Lainnya

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x